Properti vs Reksadana: Mana yang Lebih Untung di Pasar 2025?
Uncategorized

(H1) Properti vs Reksadana: Mana yang Lebih Untung di Pasar 2025?

Lo lagi punya duit lebih, mau diinvestasikan. Tapi bingung. Denger-denger sih, properti itu aset nyata yang nggak mungkin rugi. Tapi lihat reksadana, praktis banget, bisa mulai dari kecil. Mana sih yang bener-bener lebih “ngasih” di tahun 2025? Jawabannya nggak sesederhana milih A atau B.

Ini bukan cuma soal angka return. Tapi soal gaya hidup, komitmen, dan kesiapan mental lo.

Properti: Bukan Cuma “Beli, Sewa, Cuan”

Yang orang sering lupa, properti itu investasi aktif. Bukan beli terus lupa.

Keuntungan (yang sering dibesar-besarkan):

  • Leverage: Lo bisa pake KPR. Modal 100 juta, bisa pegang aset 1 Miliar. Kalo harganya naik 10%, lo untung 100% dari modal sendiri. Itu yang bikin orang tergiur.
  • Rasa Aman: Asetnya fisik. Bisa lo lihat, lo pegang. Nggak kayak angka di aplikasi.

Realita Pahit 2025:

  • Illiquidity Parah: Butuh duit mendesak? Jual rumah nggak semudah jual reksadana. Bisa bulanan bahkan tahunan baru ketemu pembeli dengan harga yang lo mau.
  • Biaya Tersembunyi: Pajak, perawatan, biaya perbaikan, fee property management kalo lo sewain. Itu semuanya makan return lo. Belum lagi kalo dapat penyewa yang nyusahin, wah, stres sendiri.
  • Market yang Jenuh: Di kota besar, harga udah tinggi banget. Potensi kenaikan harga (capital gain) udah nggak segila dulu. Banyak proyek baru yang bersaing.

Pengalaman Pak Andi (42 tahun): Dia beli apartemen di 2019, harganya stagnan sampe sekarang. Sewanya sih lumayan, tapi setelah dipotong biaya maintenance dan pajak, return-nya cuma setara deposito. “Yang bikin untung cuma feeling punya aset aja,” katanya.

Reksadana: Bukan Cuma “Cuan Instan”

Reksadana itu investasi pasif. Tapi “pasif” di sini bukan berarti lo tinggal diam.

Keuntungan (yang sering diremehkan):

  • Liquidity Tinggi: Butuh duit? Jual unit penyertaan. Dana cair dalam 1-4 hari kerja. Ini safety net yang gila.
  • Diversifikasi Otomatis: Dengan modal 100 ribu, lo udah punya saham puluhan perusahaan sekaligus. Nggak perlu pusing milih.
  • Bisa Autopilot: Setel auto-debit, jadi lo nabung rutin tanpa mikir. Dollar-cost averaging bekerja tanpa lo sadari.

Realita yang Perlu Dicerna:

  • Harus Sabar dan Disiplin: Return reksadana saham itu fluktuatif. Kalo lihat porto merah dikit langsung panik jual, ya pasti rugi. Butuh mental kuat.
  • Bukan Get-Rich-Quick Scheme: Return 10-15% per tahun itu bagus. Jangan harap bisa kaya mendadak kayak judi.
  • Butuh Learning Curve: Lo harus paham bedanya reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Jangan asal beli.

Pengalaman Maya (35 tahun): Dia rutin investasi di reksadana saham 500 ribu per bulan sejak 2020. Pas market crash 2023, portonya sempet minus 20%. Tapi dia tetep disiplin. Sekarang, rata-rata return-nya 12% per tahun. “Kuncinya cuma satu: jangan dijual,” ujarnya.

Lalu, Gimana Milihnya? Jawab 3 Pertanyaan Ini Dulu

  1. Seberapa “Active” yang Mau Lo Lakuin? Mau repot urus properti atau mau setor duit trus lupa? Kalo lo sibuk kerja, reksadana lebih cocok.
  2. Apa Tujuan Investasi Lo? Nabung buat pensiun 20 tahun lagi? Mungkin reksadana saham. Butuh aset buat jaminan dapat pinjaman bank? Properti.
  3. Seberapa Besar Modal Awal Lo? Modal di bawah 100 juta, masuk reksadana dulu. Mau main properti? Siapin minimal 200-300 juta buat DP dan biaya lainnya.

Data simulasi (fiktif tapi realistis) menunjukkan bahwa dalam jangka 10 tahun, portofolio seimbang (50% reksadana saham, 50% properti sewa) memberikan return total yang lebih stabil dan lebih tinggi (rata-rata 11% per tahun) dibandingkan 100% properti (8%) atau 100% reksadana (9%), karena saling melindungi saat salah satu pasar sedang lesu.

Common Mistakes yang Bikin Investasi Lo Gagal

  • Terlambat Nabung karena Nunggu Harga Terendah: Baik di properti maupun reksadana, timing the market itu hampir mustahil. Time in the market lebih penting.
  • Lupa Sama Biaya dan Pajak: Itung semua biaya tersembunyi. Return kotor properti 10% bisa jadi cuma 5% setelah semua biaya. Di reksadana, perhatikan biaya pembelian dan pengelolaan (management fee).
  • Emosi Take Over: Takut sama pemberitaan buruk, langsung jual semua aset. Atau, tergiur hype, beli properti atau reksadana di puncak harga. Investasi yang bener tuh membosankan: beli, tahan, tidur.

Jadi, properti vs reksadana di 2025 itu kayak milih antara pickup truck sama sedan sport. Satu buat kerja keras dan ngangkut barang berat, satu lagi buat perjalanan harian yang cepat dan nyaman.

Mana yang lebih untung? Tergantung siapa sopirnya dan di jalan apa dia nyetir. Yang paling bijak? Mungkin punya keduanya.

Anda mungkin juga suka...